Catatan OTA - 2009

 

Jangan Bicara Facebook Pada Mereka

Sabtu, 14 Maret 2009

Saya, Imam Subagio dan Muhammad Subhan berangkat menuju salah satu lokasi anak-anak asuh di desa Rancaiyuh Panongan Tangerang. Disana sudah menanti Endin dan Sanip (warga setempat) yang siap mengantarkan ke rumah calon anak-anak asuh sesuai dengan data yang telah diberikan kepada saya beberapa hari sebelumnya.

Karena jam masih menunjukkan pukul 10.30, kami pun minum kopi dahulu di rumah "sederhana" Sanip yang mirip warung ( dulunya memang warung betulan), sambil menunggu anak-anak pulang sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamipun  ngobrol ngalur ngidul, dari masalah Abunawas, Nasrudin Hoja dan Si Jahil Juha, kemudian berlanjut ke Rokok Sehat Sin yang membuat Endin KO, masalah-masalah spiritual, hingga seputar Jin. Dan obrolan berhenti ketika adzan dhuhur berkumandang.

Kamipun pergi ke Masjid yang berjarak hanya 30 meter dari rumah Sanip. Masjid yang cukup luas dengan bangunan yang kokoh berarsitektur modern, tapi sayang tempat "pipis"nya terbuka dan beralas tanah. Yang menandakan bahwa itu  tempat buang air kecil adalah adanya kran dan selokan kecil yang airnya langsung diserap oleh tanah.

Di dalam masjid sudah ada formasi jamaah 11, yaitu formasi 1 orang Imam dan 1 orang ma'mum. Sayang sekali masjid sebagus ini hanya ada 2 orang di dalamnya. Kami berlima bergabung bersama 2 orang tersebut. Dan setelah usai muncul seorang lelaki tua yang kemudian ikut sholat. Sendirian.

Setelah shalat maka kamipun segera pergi ke rumah anak-anak yang ada di dalam data. Dimulai dari rumah Wahyu, anak kelas I SDN IV Rancaiyuh Kecamatan Panongan Tangerang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada kata-kata yang diungkapkan untuk menggambarkan "rumah" Wahyu. Dinding bilik yang miring ke kanan, dengan "fondasi" yang sudah terangkat. Tambalan triplek, bambu dan bilik yang saling tumpang tindih. Sebuah kain berwarna kuning bergoyang-goyang dibelakang rumah yang ternyata adalah "pintu belakang" rumah mereka. Kain itu ternyata bekas spanduk partai PKS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara orang-orang yang berpunya menjadikan marmer atau keramik sebagai alas rumah, maka Pak Daim, bapaknya Wahyu cukup dengan tanah liat yangbergelombang.

Sementara sebagian besar orang-orang berlomba-lomba memenuhi isi rumahnya dengan perabot dari yang paling standar hingga yang paling mewah, maka rumah Wahyu tidak memilikinya.

Tidak ada televisi dan radio, karena kesunyian berbicara dalam bahasa yang paling rahasia.

Tidak ada lukisan-lukisan penghias dinding, karena bilik buram dapat menjadi sejuta warna.

Tidak ada foto keluarga yang menjadi kebanggaan si pemilik rumah, karena sepotong lauk tempe telah membuat mereka serasa di surga.

Tidak ada listrik di dalam sana, karena pancaran listrik tetangga sudah masuk melalui celah bilik rumahnya

Tidak ada jam dinding penunjuk waktu, karena waktu bagi mereka adalah sama.

Semuanya ketidaadaan.

Yang ada hanya sebuah bangku kayu panjang untuk orang berjualan baso dan sebuah meja usang yang diatasnya ada satu buah termos dan teko yang ditemani 1 buah gelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang ada hanya satu buah lemari yang jadi pembatas bahwa ruangan di belakang lemari adalah sebuah dapur.

Yang ada sebuah lampu templok sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap minyak tanah

Yang ada sebuah kamar tidur untuk mereka berlima. Beralaskan tikar yang diatasnya ada sebuah kasur tipis usang.

Kamar tidur yang dikelilingi oleh karung-karung beras agar ketika hujan air tidak masuk ke dalamnya dan bebek-bebek tidak salah masuk sarangnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami tidak banyak berkata-kata, karena rumah mereka sudah bercerita segalanya.

Kami tidak banyak berbicara, karena jiwa kami tersungkur oleh ketabahannya

Kami tidak sanggup menatap mereka, karena rasa malu kepada Allah dan diri kami sendiri

Kami tidak sanggup segalanya........

 

Bahkan hanya sekedar menangkap pancaran mata lugu anak-anaknya

Bahkan untuk membalas senyuman tulus dari keluarga yang seolah-olah kemiskinan telah menjadi miliknya.

Hanya setetes air mata, tanpa kami sadari tumpah menjadi saksi bahwa Allah ada di dekatnya

Kami bertiga, membisu seribu bahasa di tengah berkecamuknya perasaan berdosa di hadapan Sang Pencipta

 

 

Maka jangan berbicara tentang Facebook di hadapan mereka.

 

 


 

Letsgodynamic.com: Comment service

Yayasan Komunitas Satu Benih Indonesia