Potret Kecil Dungus Biuk

 

 

 

 

 

 

 

Tia... seorang putri yang masuk usia remaja tidak seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Di usianya yang mencapai 14 tahun, ia harus berjuang untuk menanggung beban hidup ke 4 adik-adiknya. Ibunya wafat 4 tahun yang lalu, sedangkan ayahnya kawin lagi dan jarang menjenguk mereka. Tinggal di sebuah rumah bilik beralaskan tanah, kelima anak ini harus hidup dalam keadaan lapar dan tidak merasakan Sekolah.

Sumirat, dari Satu Benih, ketika mengunjungi mereka, harus meneteskan air mata.

Kelima anak ini belum makan, karena tidak ada yang dimakan. Dapur mereka kosong melongpong. Kecuali pendaringan yang terisi angin. Sertiap hari, jika ada yang mengirimkan beras, maka Tia pergi ke warung untuk berhutang 4 buah kerupuk sebagai lauk mereka semua. Dan ketika Sumirat membeli beras dan lauk pauk untuk mereka semua di warung tersebut, ternyata hutang mereka hanya sebesar Rp. 12.000, yang untuk ukuran mereka sangat sulit untuk melunasinya.

Tia dan ke 4 adiknya adalah salah satu sisi dari potret Kampung Dungus Biuk. Sebuah kampung kecil yang berada di sebuah negara besar yang bernama Indonesia.

Dan Tia lain bertebaran di segenap penjuru dalam keadaan lapar dan menunggu Satu Benih kebaikan dari tangan anda.